| Photo by Kelly Sikkema on Unsplash |
Jujur, buatku (yang terlihat rajin olahraga) masih menjadi misteri apakah olahraga itu semacam candu. Kalau nurutin mood, seringkali mood kita justru gak stabil—up and down gitu bawaannya. Apalagi buat kaum hawa yang punya masa-masa periodik nan susah ditebak gejolaknya ðŸ¤. Mood swing datang dan pergi macam angin sepoi-sepoi di siang hari.
Kadang rasanya berat banget buat beranjak menggerakkan badan secara tersistem (bukan cuma ngulet pas bangun tidur atau naik turun tangga doang). Padahal setelah dijalani, yaa bisa-bisa aja tuh 😅. Contohnya waktu di rumah. Ada dumbell nganggur, pun ada sepeda statis melambai-lambai di depan mata. Normalnya sih kalau otak kasih perintah "Olahragalah yang rutin untuk investasi hari tua!" yaa lantas kita bergerak menggunakan benda-benda itu meski hanya setengah jam saja. Tapi seringkali hal sesederhana itu pun menjadi konflik batin 😂. "Ah nanti dulu aja"—jawaban template yang muncul. Yang pada akhirnya berujung "Wah iya lupa, besok aja lah".
Namun, seiring waktu, sesuatu berubah. Yang awalnya hanya kewajiban perlahan menjadi kebutuhan. Olahraga bukan lagi sekadar rutinitas, tetapi bagian dari keseharian yang terasa kurang lengkap tanpanya. Lalu, apakah olahraga bisa disebut sebagai candu?
Awal Mula Kecintaan pada Olahraga
| Photo by bruce mars on Unsplash |
Setiap orang punya alasan berbeda saat mulai berolahraga. Ada yang ingin menurunkan berat badan, ada yang ingin lebih bugar, dan ada pula yang sekadar ikut tren. Aku sendiri mulai dengan alasan sederhana: ingin merasa lebih sehat dan memiliki energi lebih baik untuk menjalani hari-hari. Terlebih aku sudah terbiasa berolahraga sejak remaja. Rasanya hidup seperti ada yang kurang saat absen tak berolahraga sekian lama.
Awalnya, aku memilih workout di rumah karena kondisiku waktu itu sebagai ibu bekerja dan memiliki anak yang masih kecil. Mustahil untuk kabur meski sejenak hanya untuk pergi ke pusat kebugaran. Setelah anak mulai besar, akhirnya bergabung dalam sebuah tempat pusat kebugaran namun tanpa menggunakan Personal Trainer. Di sana aku merasakan suasana yang berbeda, dan ternyata aku menyukainya. Ternyata, olahraga bukan hanya soal fisik, tapi juga tentang perasaan yang menyertainya, terlebih karena bersama teman sekantor.
Belum lama bergabung, eh pandemi Covid 19 menyerang. Alhasil aku kembali berolahraga di rumah bermodal Youtube. Sayangnya setelah pandemi berakhir, aku tak lagi melanjutkan berolahraga rutin. Aku merasa sudah terlalu lelah dengan aktivitas bekerja 8 to 5 dan mengurus anak.
Baru setelah aku resign dari pekerjaan, aku mulai kembali tergugah untuk berolahraga rutin di gym. Semua terasa seperti kebetulan. Untungnya nih, aku punya teman-teman supportif yang satu visi: "Olahraga karena ingin sehat, perkara langsing itu bonus" 🥰. Jadilah kami bisa rutin workout seminggu dua kali.
Hormon Kebahagiaan: DOSE dalam Olahraga
| Sumber gambar : www.freepik.com |
Meski seringkali tiap workout serasa ikut wamil (karena pakai coach), plus bonus badan pegal keesokan harinya, tapi ternyata olahraga itu cara ampuh mengeluarkan empat hormon bahagia yang dikenal dengan singkatan DOSE:
🔹 Dopamin – Hormon motivasi. Rasa puas setelah menyelesaikan sesi olahraga berasal dari hormon ini. Dopamin membuat kita ingin mengulang pengalaman positif yang sama.
🔹 Oksitosin – Hormon bonding. Olahraga bersama teman atau komunitas bisa meningkatkan hormon ini, membuat kita merasa lebih terhubung dan termotivasi.
🔹Serotonin – Hormon ketenangan. Pernah merasa lebih rileks setelah olahraga? Itu karena serotonin membantu mengatur mood dan menjaga keseimbangan emosi.
🔹 Endorfin – Hormon penghilang rasa sakit. Inilah yang memberikan efek euforia ringan setelah workout, membantu mengurangi stres, dan bahkan meningkatkan toleransi terhadap rasa sakit.
Jadi, bukan sekadar sugesti—olahraga memang punya efek nyata terhadap kebahagiaan kita.
Ketagihan dalam Arti Positif
Ketika sudah terbiasa berolahraga, ada perasaan aneh jika melewatkan satu hari tanpa bergerak. Rasanya tubuh mencari-cari sensasi berkeringat, detak jantung yang berpacu, dan lonjakan energi setelahnya. Tubuh juga seperti menagih sebuah kebiasaan yang biasa dijalani, yang jika diabaikan akan berdampak pada kondisi badan yang terasa tidak nyaman, mudah sakit, dsb. Ini bukan candu dalam arti negatif, tetapi keterikatan positif dengan sesuatu yang membawa manfaat.
Mungkin inilah yang membuat banyak orang yang awalnya malas berolahraga akhirnya justru mencintainya. Bukan karena harus, tapi karena ingin.
Menjaga Keseimbangan
Meski olahraga memberikan banyak manfaat, ada satu hal yang perlu diingat: keseimbangan. Terlalu berlebihan bisa menyebabkan kelelahan, cedera, atau bahkan tekanan mental. Olahraga seharusnya menjadi bentuk apresiasi terhadap tubuh, bukan hukuman.
Pernah dengar istilah Exercise Addiction atau Compulsive Exercise? Menurut Bridget Clerkin, BA dari Within Health, Exercise Addiction atau kecanduan olahraga didefinisikan sebagai obsesi tidak sehat terhadap aktivitas fisik. Ini bisa berupa olahraga berlebihan atau pikiran yang terus-menerus tentang olahraga, sampai mengganggu kehidupan sehari-hari.
Berikut beberapa tanda yang bisa membedakan penggemar olahraga dan mereka yang mengalami kecanduan:
Kurangnya kontrol → Gagal mengurangi atau berhenti meskipun sudah mencoba.
Frekuensi tinggi → Terus memikirkan atau melakukan olahraga secara berlebihan
Mengabaikan kesehatan → Berolahraga meski sedang sakit, cedera, atau kelelahan
Pengorbanan aktivitas lain → Mengorbankan pekerjaan, sekolah, atau waktu sosial demi olahraga.
Tetap berolahraga meski ada konsekuensi negatif → Misalnya mengalami sakit fisik atau stres mental tapi tetap memaksakan diri.
Toleransi meningkat → Butuh intensitas atau durasi olahraga lebih tinggi untuk merasakan efek yang sama.
Gejala putus aktivitas → Jadi mudah cemas atau iritabel saat tidak bisa berolahraga.
Kalau olahraga sudah sampai tahap ini, tentu perlu diwaspadai agar tidak menjadi kebiasaan yang justru merugikan.
Olahraga di Rumah: Bisa Tetap Seru!
Olahraga di rumah memang terasa berbeda dibanding di gym atau komunitas. Tapi, syaratnya cuma satu: kemauan!
Aku pribadi lebih suka workout pagi atau setelah makan siang. Bagi yang kerja full-time, bisa coba olahraga sore setelah pulang kantor. Meski cuma 30 menit, rasanya seperti menunaikan kewajiban menjaga kesehatan dan menyayangi tubuh kita sendiri.
Referensi : www.withinhealth.com
Kesimpulan
Jadi, apakah olahraga adalah candu? Bisa jadi—tapi dalam arti yang positif. Saat kita menemukan aktivitas fisik yang cocok dan menjalani dengan ritme yang seimbang, olahraga bisa menjadi bagian dari gaya hidup yang menyenangkan.
Kuncinya adalah menjalani olahraga dengan perasaan senang, bukan terpaksa. Bukan demi standar orang lain, tapi demi versi terbaik dari diri sendiri. 😊
Mulai olahraga itu gampang, tapi yang penting adalah konsistensi! Kalau kamu masih sering menunda olahraga, coba mulai dengan sesi singkat 10-15 menit hari ini! Yuk, temukan jenis olahraga yang kamu suka dan buat tubuhmu lebih sehat setiap hari. Kamu bakal terkejut dengan efeknya ke tubuh dan mood!
Bagaimana dengan kamu? Apakah olahraga sudah jadi bagian dari hidupmu? Atau masih struggling untuk konsisten? Share pengalamanmu di kolom komentar, yuk!